Melihat Kebenaran Akhirat?
"Dan (ingatkanlah) perihal hari orang-orang yang zalim menggigit kedua-dua tangannya (marahkan dirinya sendiri) sambil berkata: "Alangkah baiknya kalau aku (di dunia dahulu) mengambil jalan yang benar bersama-sama Rasul?"(Al-Furqaan: 27) Pada hari itu, tidak ada peluang memberbaiki amal. Meyakini setelah kematian adalah hal yang sia-sia Al-Qur'an menyebutkan bahawa pada hari perhitungan, orang-orang kafir akan memohon agar diberikan kesempatan untuk mengerjakan kewajibannya. Namun, permintaan mereka tidak akan diterima. Mereka berharap akan dapat kembali ke dunia, tetepi permintaan mereka ditolak. Setelah menyedari tidak ada peluang untuk menebus dosa, mereka sangat menyesal. Keputusan dan penyesalan yang bercampur merupakan perasaan yang menyiksa tiada bandingannya di dunia ini. Mereka sedar akan mendapat hukuman yang kekal di akhirat, tanpa sedikit pun peluang untuk menghindar. Hal ini di gambarkan oleh ALLAH: "Dan sungguh ngeri jika engkau melihat ketika mereka didirikan di tepi neraka (untuk menyaksikan azabnya yang tidak terperi), lalu mereka berkata: "Wahai kiranya kami dikembalikan ke dunia, dan kami tidak akan mendustakan lagi ayat-ayat keterangan Tuhan kami, dan menjadilah kami dari golongan yang beriman. (Mereka mengatakan yang demikian bukanlah kerana hendak beriman) bahkan setelah nyata kepada mereka apa yang mereka selalu sembunyikan dahulu; dan kalau mereka dikembalikan ke dunia sekalipun, tentulah mereka akan mengulangi lagi apa yang mereka dilarang dari melakukannya; dan sesungguhnya mereka adalah tetap pendusta. Dan tentulah mereka akan berkata pula: "Tiadalah hidup yang lain selain dari hidup kita di dunia ini, dan tiadalah kita akan dibangkitkan semula sesudah kita mati. Dan sungguh ngeri jika engkau melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhan mereka, lalu Allah berfirman: "Bukankah hari kiamat ini suatu perkara yang benar? Mereka menjawab: "Benar, demi Tuhan kami!" Allah berfirman lagi: "Oleh itu, rasalah azab seksa neraka dengan sebab kamu telah kufur ingkar"(An-An'aam: 27-30)
Kepastian Hari Kiamat. "Telah hampir datangnya janji yang telah ditetapkan oleh Allah, maka janganlah kamu minta disegerakan. Maha suci Allah dan Maha tinggilah Ia dari perbuatan syirik yang mereka lakukan."(Al-Nahl: 1) Salah satu sifat yang menjolok yang di miliki oleh mereka yang mengangkal Allah adalah tidak percaya pada hari Akhir. Begitu pula pada kehidupan Rasulullah saw. beberapa orang tidak percaya bahawa mereka akan dihidupkan kembali pada hari akhir. Rasulullah saw. menganggapi penyataan mereka dengan jawapan yang bijaksana dan singkat. Rasulullah saw. diperintahkan untuk mengunakkan cara-cara tersebut di dalam Al-Qur'an: "Adakah sesudah kita mati serta menjadi tanah dan tulang, adakah kita akan dibangkitkan hidup semula? Dan adakah juga datuk nenek kita yang telah lalu (akan dibangkitkan hidup semula)? Jawablah (wahai Muhammad): "Ya, benar !(Kamu semua akan dibangkitkan) dengan keadaan hina-dina ".(As-Saaffaat: 16-18) Dengan harapan mereka akan kembali kepada jalan yang benar dan percaya, Rasulullah saw. mengatakan pada mereka bahawa hari akhir tidak lama lagi.
Allah Mengetahui Sumpah yang Dusta. "(Dan janganlah kamu jadikan nama) Allah dalam sumpah kamu sebagai benteng yang menghalangi kamu daripada berbuat baik dan bertaqwa, serta mendamaikan perbalahan antara sesama manusia. Dan (ingatlah), Allah sentiasa mendengar, lagi sentiasa mengetahui."(Al-Baqarah: 224) Al-Qur'an menceritakan berbagai contoh keadaan orang-orang yang sangat cemas akan kehidupan dan harta mereka. Dengan demikian , mereka kehilangan keikhlasannya dan tidak sanggup meraih ridha Allah. Ketika Rasulullah saw. mengajak orang-orang untuk berjihad dengan diri mereka demi kepentingan Allah, beberapa dari mereka mengatakan: "Kalau apa yang engkau serukan kepada mereka (wahai Muhammad) sesuatu yang berfaedah yang sudah didapati, dan satu perjalanan yang sederhana (tidak begitu jauh), nescaya mereka (yang munafik itu) akan mengikutmu; tetapi tempat yang hendak dituju itu jauh bagi mereka. Dan mereka akan bersumpah dengan nama Allah dengan berkata: "Kalau kami sanggup, tentulah kami akan pergi bersama kamu". (Dengan sumpah dusta itu) mereka membinasakan diri mereka sendiri, sedang Allah mengetahui bahawa sesungguhnya mereka itu orang-orang yang berdusta (tentang tidak sanggupnya mengikutmu)."(At-Taubah: 42). Sedangkan yang lainnya berkata: "Orang-orang (munafik) yang ditinggalkan (tidak turut berperang) itu, bersukacita disebabkan mereka tinggal di belakang Rasulullah (di Madinah); dan mereka (sememangnya) tidak suka berjihad dengan harta benda dan jiwa mereka pada jalan Allah (dengan sebab kufurnya), dan mereka pula (menghasut dengan) berkata: "Janganlah kamu keluar beramai-ramai (untuk berperang) pada musim panas ini". Katakanlah (wahai Muhammad): "Api neraka Jahannam lebih panas membakar", kalaulah mereka itu orang-orang yang memahami."(At-Taubah: 81) Oleh kerana itu, mereka melebihkan diri mereka sendiri dengan menghuraikan alasan-alasan selanjutnya. Sambil mencari-cari alasan, sebahagian mereka pergi keluar dengan menghafalkan sumpah atas nama Allah untuk menunjukkan bahawa mereka mengatakan yang sesungguhnya. Akan tetapi, Allah menegaskan bahawa Dia mengetahui kebohongan yang mereka lakukan. Mereka telah memberikan jiwa mereka kepada hukuman atas ketidak'ikhlasan mereka. "(Mereka tetap tinggal) tetapi Rasulullah dan orang-orang yang beriman bersamanya, berjihad dengan harta benda dan jiwa mereka; dan mereka itulah orang-orang yang mendapat kebaikan, dan mereka itulah juga yang berjaya."(At-Taubah: 88)