NUFNNANG

NAMA BLOGGERS

Thursday, March 31, 2011

Kaum Kafir Tidak Dapat Mengelak dari Kekalahan.

Kaum Kafir Tidak Dapat Mengelak dari Kekalahan.
     "(Kebinasaan mereka) yang demikian ialah kerana mereka sentiasa didatangi Rasul-rasul yang diutuskan kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan (hukum-hukum dan mukjizat) yang jelas nyata, maka mereka kufur ingkar, lalu Allah menyeksa mereka, sesungguhnya Allah adalah Maha Kuat lagi Maha berat azab seksaNya."(Ghaafir: 22).
     Keyakinan, ketakwakalan, dan ketaatan Rasulullah saw. kepada Allah terlihat dalam setiap perkataan dan perbuatan beliau. Meski dalam keadaan sulit sekali pun, Rasulullah saw. percaya bahawa Allah akan membantu beliau. Beliau selalu yakin bahawa di mana pun adanya, kaum beriman akan meraih kemenangan dan kaum kafir akan terkalahkan. Rasulullah saw. menyatakan dalam hadis berikut, "Apapun yang telah ditentukan kepadamu pasti akan terlaksana dan kamu tidak dapat melarikan diri darinya".
     Selain peringatan tersebut, Allah juga memperingatkan, kaum kafir akan hari Akhir, Allah berfirman:
     "Dan mereka berkata: "Adakah sesudah kita menjadi tulang dan benda yang reput, adakah kita akan dibangkitkan semula dengan kejadian yang baharu?. Katakanlah (wahai Muhammad):" Jadilah kamu batu atau besi, Atau lain-lain makhluk yang terlintas di hati kamu sukar hidupnya, (maka Allah berkuasa menghidupkannya)!" Mereka pula akan bertanya: "Siapakah yang akan mengembalikan kita hidup semula?" Katakanlah: "Ialah Allah yang menjadikan kamu pada mulanya!" Maka mereka akan menganggukkan kepala mereka kepadamu sambil bertanya secara mengejek: Bila berlakunya?" Katakanlah: "Dipercayai akan berlaku tidak lama lagi!"(Al-Israa: 49-51)
     Hal ini kerana mereka menyangkal akan adanya hari Akhir. Allah juga memperingatkan kaum kafir akan neraka,
     "Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas nyata, engkau akan dapat melihat pada muka orang-orang yang kafir itu tanda marah dan benci, hampir-hampir mereka hendak menerkam dan menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka. Katakanlah (wahai Muhammad): "Jika demikian, mahukah, aku khabarkan kepada kamu: yang lebih buruk lagi daripada apa yang telah menyebabkan kemarahan kamu itu? Ialah neraka yang telah dijanjikan oleh Allah kepada orang-orang yang kafir, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali! "(Al-Hajj: 72).

Tuesday, March 29, 2011

Teladan Keadilan Rasulullah Saw.

Teladan Keadilan Rasulullah Saw.
     "Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi (dirinya dan orang lain) dari jalan Allah, serta mereka memusuhi Rasul Allah setelah ternyata kepada mereka kebenaran petunjuk (yang dibawanya), mereka tidak sekali-kali akan dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun, dan (sebaliknya) Allah akan menghampakan perbuatan dan amal-amal mereka. Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kepada Rasul Allah, dan janganlah kamu batalkan amal-amal kamu! "(Muhammad: 32-33)
     
     "Wahai orang-orang yang beriman! Hendaklah kamu menjadi orang-orang yang sentiasa menegakkan keadilan, lagi menjadi saksi (yang menerangkan kebenaran) kerana Allah, sekalipun terhadap diri kamu sendiri, atau ibu bapa dan kaum kerabat kamu. Kalaulah orang (yang didakwa) itu kaya atau miskin (maka janganlah kamu terhalang daripada menjadi saksi yang memperkatakan kebenaran disebabkan kamu bertimbang rasa), kerana Allah lebih bertimbang rasa kepada keduanya. Oleh itu, janganlah kamu turutkan hawa nafsu supaya kamu tidak menyeleweng dari keadilan. Dan jika kamu memutar-balikkan keterangan ataupun enggan (daripada menjadi saksi), maka sesungguhnya Allah sentiasa Mengetahui dengan mendalam akan apa yang kamu lakukan."(An-Nisaa': 135)
     Ayat di atas adalah perintah Allah kepada kaum mukminin untuk bersikap adil. Oleh kerana itu, Rasulullah Saw. mempratikkan sepenuh hati perintah Allah ini.
      Aturan aturan beliau dalam memerintah kaum muslim, sikap toleransi beliau terhadap agama lain, bahasa, ras, dan suku, serta cara beliau tidak mendiskriminasikan antara yang kaya dan miskin, namun melakukan setiap orang sedarjat, membuat  Rasulullah Saw. menjadi contoh sempurna bagi seluruh umat manusia. Allah menyatakan hal ini kepada Rasulullah Saw.
     "Mereka sangat suka mendengar berita-berita dusta, sangat suka memakan segala yang haram (rasuah dan sebagainya). Oleh itu kalau mereka datang kepadamu, maka hukumlah di antara mereka (dengan apa yang telah diterangkan oleh Allah), atau berpalinglah dari mereka; dan kalau engkau berpaling dari mereka maka mereka tidak akan dapat membahayakanmu sedikitpun; dan jika engkau menghukum maka hukumlah di antara mereka dengan adil; kerana sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berlaku adil."(Al-Maaidah: 42)
     Rasulullah Saw. sebagai teladan keimanan, mematuhi perintah-perintah Allah meski harus berdepan dengan sulit dan tidak pernah membuat satu kelonggaran pun dalam menjalankan keadilan:
     "Katakanlah: "Tuhanku menyuruh berlaku adil (pada segala perkara), dan (menyuruh supaya kamu) hadapkan muka (dan hati) kamu (kepada Allah) dengan betul pada tiap-tiap kali mengerjakan sembahyang, dan beribadatlah dengan mengikhlaskan amal agama kamu kepadaNya semata-mata; (kerana) sebagaimana Ia telah menjadikan kamu pada mulanya, (demikian pula) kamu akan kembali (kepadaNya)."(Al-A'raaf: 29)
     Sejumlah peristiwa terjadi untuk menguji rasa keadilan Rasulullah Saw. Namun, keadilan yang diterapkan Rasulullah Saw. merupakan sumber dari kedamaian dan keamanan bagi berbagai komuniti berbeza. Pada kehadiran Rasulullah Saw. Nasarani, Yahudi, dan kaum yang lain diperlakukan secara sedarjat.

Monday, March 28, 2011

Ajakan Beriman dan Beramal Soleh dari Orang Beriman

Ajakan Beriman dan Beramal Soleh dari Orang Beriman.
     "Dan wahai kaumku! Apa halnya aku dengan kamu? Aku mengajak kamu kepada keselamatan, dan kamu pula mengajakku ke neraka?."(Ghaafir: 41)
     Allah Swt. mewajibkan kepada seluruh manusia untuk beragama islam. Setiap orang yang mengetahui keberadaan agama ini akan ditanya di akhirat  kelak apakah dia patuh pada Al-Qur'an atau tidak. 
     Menyeru kepada jalan benar merupakan salah satu kandungan Al-Qur'an. Oleh kerana itu, orang yang menjalankan agama Allah harus menyampaikan moral-moral Islam kepada orang lain, mengajak mereka ke jalan yang benar, mengajak mereka berbuat baik dan mencegah mereka berbuat salah. Di dalam Al-Qu'ran, Allah ada menyampaikan perintah berikut ini:
     "Dan hendaklah ada di antara kamu satu puak yang menyeru (berdakwah) kepada kebajikan (mengembangkan Islam), dan menyuruh berbuat segala perkara yang baik, serta melarang daripada segala yang salah (buruk dan keji). Dan mereka yang bersifat demikian ialah orang-orang yang berjaya."(A-li'Imraan: 104)
     Orang-orang beriman memiliki jiwa kesatriaan kerana mereka merindukan moral terpuji. Inilah sebabnya, terlepas dari penampilan ragawi, orang-orang beriman pun menaruh perhatian besar pada penyucian jiwa mereka dengan cara menjauhi semua keburukan yang muncul dari kelalaian dan mengajak orang mengikuti hal yang serupa.
     Misi utama dalam kehidupan mereka adalah bergabung dalam kebaikan(makruf) dan menjauhi keburukan(mungkar), serta menyampaikan kepada manusia tentang kebesaran, keperkasaan, dan kekuasaan Allah. Imbalannya, semua usha keras itu hanyalah demi mendapatkan dan meraih ridha Allah semata-mata. Selain dari itu, orang beriman tidak mengharapkan keuntungan dunaiwi sedikit pun, yang diharapkan adalah keuntungan ukhrawi. 
     

Friday, March 25, 2011

Kekuatan Iman......

Kekuatan Iman Dibangun dengan Kesabaran.


     "Dan sesungguhnya kalau Kami wajibkan kepada mereka (dengan perintah): "Bunuhlah diri kamu sendiri, atau keluarlah dari tempat kediaman kamu", nescaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sedikit di antara mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka amalkan nasihat pengajaran (meliputi suruh dan tegah) yang telah diberikan kepada mereka, tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih meneguhkan (iman mereka)."(An-Nisaa' : 66)
     Allah memberikan khabar gembira bahawa orang-orang yang bersabar akan semakin kuat. Ingatlah bahawa kekuatan adalah milik Allah. Bahkan, kekuatan orang yang menentang Allah sesungguhnya juga milik Allah. Allah memberikan berbagai kemampuan kepada orang-orang untuk menguji mereka dan orang-orang disekeliling mereka.
    Demikian pula, Dia dapat mengambil dengan mudah sebagaimana Dia dapat memberikan dengan mudah apa saja yang dikehendaki-Nya. Allah memberitahu kita bahawa orang-orang yang bersabar akan menjadi kuat, yakini Dia akan memberikan kekuatan kepada mereka. Allah menyatakan hal ini dalam:
     "Bahkan (mencukupi. Dalam pada itu) jika kamu bersabar dan bertaqwa, dan mereka (musuh) datang menyerang kamu dengan serta-merta, nescaya Allah membantu kamu dengan lima ribu malaikat yang bertanda masing-masing." (A-li'Imraan : 125)

Thursday, March 24, 2011

Hidup di Dunia Hanya Sementara

Hidup di Dunia Hanya Sementara.
     "Sesungguhnya orang-orang yang tidak percaya kepada hari akhirat, Kami jadikan perbuatan-perbuatan buruk mereka kelihatan baik kepada mereka; oleh itu, tinggalah mereka meraba-raba dalam kesesatan.Merekalah orang-orang yang akan beroleh azab seksa yang buruk (di dunia) dan mereka pula pada hari akhirat adalah orang-orang yang palig rugi."(An-Nami: 4-5)


     Manusia tinggal di dunia hanya untuk waktu yang singkat. Di sini, ia akan di uji, dilatih, kemudian meninggalkan dunia menuju kehidupan akhirat tempat tinggal selamanya.
     Harta benda serta kesenangan di dunia, walaupun diciptakan serupa dengan yang ada di akhirat, sebenarnya memiliki banyak kekurangan dan kelemahan kerana harta benda dan kesenangan tersebut ditujukan hanya agar manusia mengingati hari akhirat. Allah menjelaskan betapa dunia merupakan tempat sementara yang penuh dengan kekurangan:,
     "Ketahuilah bahawa (yang dikatakan) kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah (bawaan hidup yang berupa semata-mata) permainan dan hiburan (yang melalaikan) serta perhiasan (yang mengurang), juga (bawaan hidup yang bertujuan) bermegah-megah di antara kamu (dengan kelebihan, kekuatan, dan bangsa keturunan) serta berlumba-lumba membanyakkan harta benda dan anak pinak; (semuanya itu terhad waktunya) samalah seperti hujan yang (menumbuhkan tanaman yang menghijau subur) menjadikan penanamnya suka dan tertarik hati kepada kesuburannya, kemudian tanaman itu bergerak segar (ke suatu masa yang tertentu), selepas itu engkau melihatnya berupa kuning; akhirnya ia menjadi hancur bersepai; dan (hendaklah diketahui lagi, bahawa) di akhirat ada azab yang berat (di sediakan bagi golongan yang hanya mengutamakan kehidupan dunia itu), dan (ada pula) keampunan besar serta keredaan dari Allah (disediakan bagi orang-orang yang mengutamakan akhirat). Dan (ingatlah, bahawa) kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan bagi orang-orang yang terpedaya."(Al-Hadiid: 20)


     "Dihiaskan (dan dijadikan indah) kepada manusia: kesukaan kepada benda-benda yang diingini nafsu, iaitu perempuan-perempuan dan anak-pinak; harta benda yang banyak bertimbun-timbun, dari emas dan perak; kuda peliharaan yang bertanda lagi terlatih; dan binatang-binatang ternak serta kebun-kebun tanaman. Semuanya itu ialah kesenangan hidup di dunia. Dan (ingatlah), pada sisi Allah ada tempat kembali yang sebaik-baiknya (iaitu Syurga). Katakanlah (wahai Muhammad): "Mahukah supaya aku khabarkan kepada kamu akan yang lebih baik daripada semuanya itu? Iaitu bagi orang-orang yang bertaqwa disediakan di sisi Tuhan mereka beberapa Syurga, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Disediakan juga pasangan-pasangan/ isteri-isteri yang suci bersih, serta (beroleh pula) keredaan dari Allah". Dan (ingatlah), Allah sentiasa Melihat akan hamba-hambaNya;"(A-li'Imraan: 14-15)


     Sebenarnya, kehidupan di dunia tidak sempurna dan tidak berharga dibandingkan kehidupan abadi di akhirat. Untuk mengambarkan hal ini, dunia menyimpan maksud "tempat yang sempit, pertelingkahan, dan kotor", Manusia menganggap  usia 60-70 tahun sangat panjang dan memuaskan.
     Akan tetapi, tiba-tiba kematian datang dan semua terkubur di liang lahad. Sebenarnya, ketika kematian mendekat, baru disedari betapa singkatnya waktu di dunia. Pada hari kebangkitan, Allah akan bertanya kepada manusia ,
     "Allah bertanya lagi (kepada mereka yang kafir itu): "Berapa tahun lamanya kamu tinggal di bumi?. Mereka menjawab: Kami tinggal (di dunia) selama sehari atau sebahagian dari sehari; maka bertanyalah kepada golongan (malaikat) yang menjaga urusan menghitung. Allah berfirman: "Kamu tidak tinggal (di dunia) melainkan sedikit masa sahaja, kalau kamu dahulu mengetahui hal ini (tentulah kamu bersiap sedia). Maka adakah patut kamu menyangka bahawa Kami hanya menciptakan kamu (dari tiada kepada ada) sahaja dengan tiada sebarang hikmat pada ciptaan itu? Dan kamu (menyangka pula) tidak akan dikembalikan kepada Kami?."( Al-Mu'minuun : 112-115)


     Mengabaikan Allah dan tidak mengacuhkan kehidupan akhirat, sepanjang hidup mengejar keserakahan dunia, bererti hukuman abadi di dalam api neraka. Orang-orang yang berada di jalan ini digambarkan dalam Al-Qur'an sebagai orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat.
     Allah memberikan azab bagi mereka:
     "Mereka itulah orang-orang yang membeli (mengutamakan) kehidupan dunia (dan kesenangannya) dengan (meninggalkan perintah-perintah Allah yang membawa kebahagiaan dalam kehidupan) akhirat; maka tidak akan diringankan azab seksa mereka (pada hari kiamat), dan mereka pula tidak akan diberikan pertolongan.(Al-Baqarah: 86)
     "Sesungguhnya orang-orang yang tidak menaruh ingatan akan menemui Kami (pada hari akhirat untuk menerima balasan), dan yang reda (berpuashati) dengan kehidupan dunia semata-mata serta merasa tenang tenteram dengannya, dan orang-orang yang tidak mengindahkan ayat-ayat (keterangan dan tanda-tanda kekuasasaan) Kami, Mereka yang demikian keadaannya (di dunia), tempat kediaman mereka (di akhirat) ialah neraka; disebabkan keingkaran dan kederhakaan yang mereka telah lakukan."(yunus: 7-8)


     Bagi mereka yang lupa bahawa dunia merupakan tempat sementara dan mereka tidak memperhatikan ayat-ayat Allah, tetapi merasa puas dengan permainan dunia dan kesenangan hidup, menganggap dunia ini milik diri mereka, serta berTuhankan diri mereka sendiri, Allah akan memberikan hukuman yang berat.
     Al-Qur'an mengambarkan keadaan yang demikian:
     "Maka (dapatlah masing-masing mengetahui kesudahannya); adapun orang yang melampau (perbuatan derhakanya), Serta ia mengutamakan kehidupan dunia semata-mata, Maka sesungguhnya neraka Jahanamlah tempat kediamannya."(An-Naazi'aat: 37-39)

Wednesday, March 23, 2011

Pemberitahuan Allah Bagi Rasulullah atas Perilaku Munafik

Pemberitahuan Allah Bagi Rasulullah atas Perilaku Munafik.
     "Dan di antara mereka (yang hadir di majlismu wahai Muhammad, ialah orang-orang munafik) yang mendengar ajaranmu (dengan sambil lewa), sehingga apabila mereka keluar dari sisimu berkatalah mereka (secara mengejek-ejek) kepada orang-orang yang diberi ilmu (dari kalangan sahabat-sahabatmu yang setia): "Apa yang dikatakan oleh Muhammad tadi?" Mereka (yang munafik) itu ialah orang-orang yang telah dimeteraikan Allah atas hati mereka, dan ialah orang-orang yang menurut hawa nafsunya."(Muhammad: 16)
     Orang-orang beriman menghadapi sekelompok orang kafir dan munafik yang menggunakan berbagai cara untuk menyesatkan mereka dari jalan yang benar. Al-Qu'ran memberikan contoh terperinci tentang penghinaan dan umpatan yang digunakan orang-orang kafir dan munafik:
     "Demi sesungguhnya, kamu akan diuji pada harta benda dan diri kamu. Dan demi sesungguhnya, kamu akan mendengar dari orang-orang yang telah diberikan Kitab dahulu daripada kamu dan orang-orang yang musyrik: banyak (tuduhan-tuduhan dan cacian) yang menyakitkan hati. Dalam pada itu, jika kamu bersabar dan bertaqwa maka sesungguhnya yang demikian itu adalah dari perkara-perkara yang dikehendaki diambil berat (melakukannya)."(A-li'Imraan:186)
     Dalam ayat tersebut, Allah menjelaskan bahawa kebohongan dan fitnah yang ditujukan kepada orang-orang beriman sebenarnya baik bagi mereka. Dalam ayat lainnya, Allah menghubungkan kenyataan tersebut dengan contoh lain pada Rasulullah SAW:
     "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita yang amat dusta itu ialah segolongan dari kalangan kamu; janganlah kamu menyangka (berita yang dusta) itu buruk bagi kamu, bahkan ia baik bagi kamu. Tiap-tiap seorang di antara mereka akan beroleh hukuman sepadan dengan kesalahan yang dilakukannya itu, dan orang yang mengambil bahagian besar dalam menyiarkannya di antara mereka, akan beroleh seksa yang besar (di dunia dan di akhirat)."(An-Nuur: 11)

Tuesday, March 22, 2011

Hikmah Menyedari Kebenaran adalah Kenikmatan Orang Bertakwa

Hikmah Menyedari Kebenaran adalah Kenikmatan Orang Bertakwa.
     "Kecelakaan besar, pada hari itu, bagi orang-orang yang mendustakan (amaran Allah), Dan apabila dikatakan kepada mereka (yang ingkar): "Taatlah dan kerjakanlah sembahyang", mereka enggan mengerjakannya. Kecelakaan besar, pada hari itu, bagi orang-orang yang mendustakan (perintah-perintah Allah dan laranganNya)! (Kalau mereka tidak juga mahu beriman kepada keterangan-keterangan yang tersebut) maka kepada perkataan yang mana lagi, sesudah itu, mereka mahu beriman?".(Al-Mursalaat: 47-50)
     Allah Swt. mengaburkan pemahaman orang-orang kafir. Orang-orang ini, betapa pun cerdas otak mereka, tidak dapat memahami perinsip-perinsip agama yang sangat jelas kerana sudah menolak kebenaran sejak awal. Orang-orang seperti itu, bahkan tidak menyedari keadaan mereka. Misalnya, mereka menganggap bahawa mereka adalah sumber kekuasaan dan kekayaan, lalu menjadi sombong.
     Sesungguhnya, anggapan dan sikap seperti ini menunjukkan bahawa ia tidak memiliki hikmah kerana jika memiliki hikmah, ia akan menyedari bahawa tidak ada suatu pun yang berkuasa, kecuali kehendak Allah.
     Hikmah adalah sifat istemewa yang di miliki orang-orang yamg beriman. Sebahagian besar manusia menganggap bahawa kecerdasan otak dan hikmah itu memiliki makna yang sama. Padahal, kecerdasan otak adalah kemampuan fikiran yang dimiliki oleh setiap orang. Misalnya, menjadi seorang ilmuan ahli atom atau bijak dibidang matematik menunjukkan kecerdasan otak.
     Semantara itu, hikmah adalah hasil dari ketakwaan seseorang kepada Allah dan digunakannya hati nurani, sama sekali tidak ada hubungannya dengan kecerdasan otak. Kebiasaan saja seseorang sangat cerdas otaknya, tetapi ia tidak akan menjadi orang bijak selagi ia tidak bertakwa kepada Allah.
     Oleh kerana itu, hikmah adalah rahmat dari Allah yang di kurniakan kepada orang-orang beriman. Allah mengeruniakan pemahaman kepada orang-orang beriman melalui keimanan mereka. Jika mereka merasa semakin dekat dengan Allah, pemahaman mereka pun meningkat dan mereka menjadi lebih memahami rahsia-rahsia ciptaan Allah.
     Hanya orang-orang beriman yang bertakwa kepada Allah yang memiliki pemahaman seperti ini sehingga mereka tidak tertipu oleh kehidupan dunia. Mereka menghabiskan hidup mereka dengan memahami hakikat segala sesuatu.

Monday, March 21, 2011

Tentang CINTA..

Tentang CINTA.
     "Katakanlah (wahai Muhammad): "Jika benar kamu mengasihi Allah maka ikutilah daku, nescaya Allah mengasihi kamu serta mengampunkan dosa-dosa kamu. Dan (ingatlah), Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani."(A-li'Imraan: 31)
     Menurut Al-Qur'an, cinta sejati menuntut kepatuhan kepada Allah dan menghindari apa yang tidak di ridhai-Nya. Jika kita perhatikan kehidupan dan perbuatan orang-orang yang mempunyai anggapan dan merasa yakin bahawa cinta manusia saja sudah cukup, dapat kita lihat bahawa mereka tidak teguh dengan pendiriannya itu, dan sering mengubah-ubah kecintaannya. 
     Sebaliknya, seseorang yang mencintai Allah dengan setulus hati, sangat patuh dengan perintah-Nya, menghindari hal-hal yang di larang-Nya serta memelihara dirinya dengan perbuatan yang diridhai Allah, meujudkan cintanya demi untuk mencari ridha Allah disetiap saat dengan bersungguh-sungguh, keyakinan, kepatuhan dan kesetiaan kepada-Nya.
     Kerana sikap perihatinnya itu, ia sanggat takut akan kehilangan ridha-Nya atau menimbulkan murka-Nya.
     Mengungkapkan cinta hanya dibibir saja, tetapi hidup dengan melewati batas-batas yang di larang Allah, tentunya merupakan sikap yang munafik. Allah memerintahkan manusia untuk takut kepada-Nya. Sebagaimana termaktub dalam salah satu firman Allah Swt.
      "Hendaklah kamu (wahai Muhammad dan pengikut-pengikutmu) sentiasa rujuk kembali kepada Allah (dengan mengerjakan amal-amal bakti) serta bertaqwalah kamu kepadaNya; dan kerjakanlah sembahyang dengan betul sempurna; dan janganlah kamu menjadi dari mana-mana golongan orang musyrik."(Ar-Ruum ;31)

Sunday, March 20, 2011

Kesan Menyeleweng Ayat-Ayat Allah.

Kesan Menyeleweng Ayat-Ayat Allah.


     "Sesungguhnya orang-orang yang mengutamakan keuntungan dunia yang sedikit dengan menolak janji Allah dan mencabuli sumpah mereka, mereka tidak akan mendapat bahagian yang baik pada hari akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan memandang kepada mereka pada hari Kiamat, dan tidak akan membersihkan mereka (dari dosa), dan mereka pula akan beroleh azab seksa yang tidak terperi sakitnya."(A-li'Imraan: 77)

     "Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan (meminda atau mengubah) apa-apa keterangan Kitab Suci yang telah diturunkan oleh Allah, dan membeli dengannya keuntungan dunia yang sedikit faedahnya, mereka itu tidak mengisi dalam perut mereka selain dari api neraka, dan Allah tidak akan berkata-kata kepada mereka pada hari kiamat, dan Ia tidak membersihkan mereka (dari dosa), dan mereka pula akan beroleh azab seksa yang tidak terperi sakitnya." (Al-Baqarah; 174).
     "Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan meninggalkan petunjuk (agama Allah), dan (membeli) azab seksa neraka dengan meninggalkan keampunan Tuhan. Maka sungguh ajaib kesanggupan mereka menanggung seksa api neraka itu."(Al-Baqarah: 175)
     Penyelewengan ini telah digambarkan dalam Al-Qur'an sebagai salah satu bahaya yang harus di hindari oleh manusia. Allah telah melarang manusia melakukan penyelewengan dan telah berfirman bahawa Dia tidak menyukai orang yang melakukannya.


     "Dan orang-orang Yahudi itu berkata: "Tangan Allah terbelenggu (bakhil - kikir)", tangan merekalah yang terbelenggu dan mereka pula dilaknat dengan sebab apa yang mereka telah katakan itu, bahkan kedua tangan Allah sentiasa terbuka (nikmat dan kurniaNya luas melimpah-limpah). Ia belanjakan (limpahkan) sebagaimana yang Ia kehendaki; dan demi sesungguhnya, apa yang telah diturunkan kepadamu dari tuhanmu itu akan menjadikan kebanyakan dari mereka bertambah derhaka dan kufur; dan Kami tanamkan perasaan permusuhan dan kebencian di antara mereka hingga hari kiamat. Tiap-tiap kali mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya; dan mereka pula terus-menerus melakukan kerosakan di muka bumi, sedang Allah tidak suka kepada orang-orang yang melakukan kerosakan."(Al-Maaidah: 64)*
     Dalam surah di atas* menyebutkan bagaimana orang-orang mengingkari Allah terus menerus mencuba menyebarkan penyelewengan, penentangan, kekacauan dan perang. Ayat ini menekankan bagaimana orang-orang tersebut mencuba menyemarakan peperangan. Tindakan kejahatan kasar, pertentangan dan keganasan, dan cara-cara ini merupakan cara-cara yabg sering digunakan oleh Dajjal. "(Iaitu) orang-orang yang merombak (mencabuli) perjanjian Allah sesudah diperteguhkannya, dan memutuskan perkara yang disuruh Allah supaya diperhubungkan, dan mereka pula membuat kerosakan dan bencana di muka bumi. Mereka itu ialah orang-orang yang rugi."(Al-Baqarah: 27)


     Akhlak Al-Qur'an, di pihak lain, memberi manafaat pada perdamaian  dan keamanan. Tujuannya,sebagaimana difirmankan dalam Al-Qur'an, adalah pembangunan sebuah lingkungan tempat manusia dari segala kepercayaan dan bangsa agar dapat hidup bersama dalam keamanan. Persoaln dunia hanya dapat dipecahkan dengan hidup dalam akhlak agama dan oleh manusia yang mendengar suara nurani mereka.Dan janganlah kamu berbuat kerosakan di bumi sesudah Allah menyediakan segala yang membawa kebaikan padanya, dan berdoalah kepadaNya dengan perasaan bimbang (kalau-kalau tidak diterima) dan juga dengan perasaan terlalu mengharapkan (supaya makbul). Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat kepada orang-orang yang memperbaiki amalannya."(Al-A'raaf: 56)

Saturday, March 19, 2011

Tidak Faham Al-Qur'an Disesatkan Syaitan.

Tidak Faham Al-Qur'an Disesatkan Syaitan.
     "Dan sesiapa yang tidak mengindahkan pengajaran (Al-Quran yang diturunkan oleh Allah) Yang maha Pemurah, Kami akan adakan baginya Syaitan (yang menghasut dan menyesatkannya), lalu menjadilah Syaitan itu temannya yang tidak renggang daripadanya."(Az-Zukhruf: 36)
     Allah Swt berfirman sebagai berikut:
     "Allah tidak memberati seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya. Ia mendapat pahala kebaikan yang diusahakannya, dan ia juga menanggung dosa kejahatan yang diusahakannya. (Mereka berdoa dengan berkata): "Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau mengirakan kami salah jika kami lupa atau kami tersalah. Wahai Tuhan kami ! Janganlah Engkau bebankan kepada kami bebanan yang berat sebagaimana yang telah Engkau bebankan kepada orang-orang yang terdahulu daripada kami. Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak terdaya memikulnya. Dan maafkanlah kesalahan kami, serta ampunkanlah dosa kami, dan berilah rahmat kepada kami. Engkaulah Penolong kami; oleh itu, tolonglah kami untuk mencapai kemenangan terhadap kaum-kaum yang kafir".(Al-Baqarah: 286)
     Seseorang yang cukup peka dapat  dengan mudah mengetahui bahawa Allah sedang menyampaikan satu contoh cara  berdoa bagi orang-orang yang benar-benar beriman melalui ayat tersebut dan mereka terus berdoa seperti itu. Sebaliknya, orang-orang yang tidak berakal tidak akan pernah mengetahui watak ilimah nyata dari ayat-ayat Al-Qur'an seperti itu dan disesatkan oleh syaitan.
    Tidak ada paksaan dalam agama (Islam), kerana sesungguhnya telah nyata kebenaran (Islam) dari kesesatan (kufur). Oleh itu, sesiapa yang tidak percayakan Taghut, dan ia pula beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada simpulan (tali agama) yang teguh yang tidak akan putus. Dan (ingatlah), Allah Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui. Allah Pelindung (Yang mengawal dan menolong) orang-orang yang beriman. Ia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kufur) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, penolong-penolong mereka ialah Taghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya (iman) kepada kegelapan (kufur). Mereka itulah ahli neraka, mereka kekal di dalamnya." (Al-Baqarah : 256-257). 

Friday, March 18, 2011

Berlaku Adil dan Sesuai Hukum..

Berlaku Adil dan Sesuai Hukum.


     "Dan ketahuilah, bahawa apa sahaja yang kamu dapati sebagai harta rampasan perang, maka sesungguhnya satu perlimanya (dibahagikan) untuk (jalan) Allah, dan untuk RasulNya, dan untuk kerabat (Rasulullah), dan anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ibnus-sabil (orang musafir yang keputusan), jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang telah diturunkan oleh Kami (Allah) kepada hamba Kami (Muhammad) pada "Hari Al-Furqaan", iaitu hari bertemunya dua angkatan tentera (Islam dan kafir, di medan perang Badar). Dan (ingatlah) Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu."(Al-Anfaal: 41)
        Dalam Al-Qur'an, Allah memerintahkan mukmin tidak menyimpang dari keadilan, apa pun keadaannya lihat:
     "Wahai orang-orang yang beriman! Hendaklah kamu menjadi orang-orang yang sentiasa menegakkan keadilan, lagi menjadi saksi (yang menerangkan kebenaran) kerana Allah, sekalipun terhadap diri kamu sendiri, atau ibu bapa dan kaum kerabat kamu. Kalaulah orang (yang didakwa) itu kaya atau miskin (maka janganlah kamu terhalang daripada menjadi saksi yang memperkatakan kebenaran disebabkan kamu bertimbang rasa), kerana Allah lebih bertimbang rasa kepada keduanya. Oleh itu, janganlah kamu turutkan hawa nafsu supaya kamu tidak menyeleweng dari keadilan. Dan jika kamu memutar-balikkan keterangan ataupun enggan (daripada menjadi saksi), maka sesungguhnya Allah sentiasa Mengetahui dengan mendalam akan apa yang kamu lakukan."(An-Nisaa': 135)
      Mereka yang beriman sempurna selalui menaati perintah ini dan menegakkan keadilan. Mereka tidak pernah melupakan bahawa mereka harus bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatan mereka di hari kemudian dan akan di hadapkan di hari itu  dengan setiap perbuatan baik atau buruk yang mereka lakukan. Kerana alasan ini, tidak satu pun sasaran-sasaran yang mungkin mereka raih di dunia ini tanpak lebih baik daripada ridha Allah yang mereka harap tercapai di hari kemudian.
      Salah satu sifat terpenting mukmin yng ta'at adalah bahawa mereka telah memilih cara "orang-orang yang terdepan". Kerana itu, mereka selalu menunjukkan sikap dengan selalu berharap meraih kesenangan dari Allah Swt. Mereka bertindak dengan kesedaran bahawa  "Untuk setiap hari dimana matahari terbit, ada pahala sedekah bagi orang yang menegakkan keadilan di antara manusia"(HR Bukhari). 
       Dalam Al-Qur'an, Allah memerintahkan sebagai berikut:
       "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu supaya menyerahkan segala jenis amanah kepada ahlinya (yang berhak menerimanya), dan apabila kamu menjalankan hukum di antara manusia, (Allah menyuruh) kamu menghukum dengan adil. Sesungguhnya Allah dengan (suruhanNya) itu memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kamu. Sesungguhnya Allah sentiasa Mendengar, lagi sentiasa Melihat".(An-Nisaa': 58)
     Untuk meraih pemahaman keadilan menurut pengertian Al-Qur'an, seseorang harus mampu menahan hasrat hawa nafsunya dan mengikuti nuraninya. Disamping itu, ia harus bertekad menahan amarahnya dan berfikir menurut landasan-landasan Al-Qur'an. Sungguh, mereka yang beriman sempurna memiliki semua watak ini,
     "Dan jika dua puak dari orang-orang yang beriman berperang, maka damaikanlah di antara keduanya; jika salah satunya berlaku zalim terhadap yang lain, maka lawanlah puak yang zalim itu sehingga ia kembali mematuhi perintah Allah; jika ia kembali patuh maka damaikanlah di antara keduanya dengan adil (menurut hukum Allah), serta berlaku adillah kamu (dalam segala perkara); sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berlaku adil."(Al-Hujuraat:9),
Mereka tidak pernah menyeleweng dari keadilan.




     

Wednesday, March 16, 2011

Dunia Moden: Cara Halus Menyesatkan Manusia

Dunia Moden...Cara halus Menyesatkan Manusia


     "Dan ada di antara manusia: orang yang memilih serta membelanjakan hartanya kepada cerita-cerita dan perkara-perkara hiburan yang melalaikan; yang berakibat menyesatkan (dirinya dan orang ramai) dari agama Allah dengan tidak berdasarkan sebarang pengetahuan; dan ada pula orang yang menjadikan agama Allah itu sebagai ejek-ejekan; merekalah orang-orang yang akan beroleh azab yang menghinakan."(Luqman: 6)
     Orang-orang Jahiliah menganggap kemerosotan adalah sebuah cara hidup moden. Pada saat yang sama, mereka takut di permalukan jika tidak menunjukkan seseorang cara yang moden. Mereka pun seboleh mungkin mengajak banyak orang berpandangan yang sama.
     Gambaran ini dengan jelas mencemuh nilai-nilai moral seperti kejujuran. Seorang yang mengembalikan wang yang di temui di tepi jalan kepada pemiliknya akan di ketawakan.
      Dalam situasi seperti ini, perilaku Jahiliah adalah tidak mengembalikan wang itu. Padahal, contoh ini hanya mencerminkan satu aspek dari pemahaman masyarakat Jahiliah tentang nilai-nilai moral. Kepalsuan dan dusta dianggap normal. Seseorang boleh saja melakukan mencuri kerana dia menganggap perbuatan itu tidak ada salahnya. Demikian pula, seseorang dapat berbohong bila-bila saja dia mahu.
     Dalam sistem ini orang lain tidak berhak untuk merasa keberatan kerana mereka sendiri juga berhak untuk berbuat dengan bebas sesuai dengan nilai-nilai moral yang dianutnya sendiri-sendiri.

Tuesday, March 15, 2011

Masa sulit......

Masa Sulit membuktikan Kadar Keimanan Seseorang.
     Dalam menghadapi kesusahan, orang-orang beriman mengerti bahawa itu adalah cobaan "yang mereka mempunyai kekuatan untuk menanggungnya" dan kerana itu mencuba menunjukkan kepasrahan mereka kepada Allah dan kepercayaan mereka kepada-Nya dengan cara sebaik mungkin. Mereka mengetahui bahawa sikap-sikap yang dianutnya pada masa-masa senang dan yang di perlihatkan dalam masa-masa susah tidaklah sama di mata Allah. Dalam hal ini,  Allah memberi contoh dalam Al-Qur'an:
     "Tidaklah sama keadaan orang-orang yang duduk (tidak turut berperang) dari kalangan orang-orang yang beriman - selain daripada orang-orang yang ada keuzuran - dengan orang-orang yang berjihad (berjuang) pada jalan Allah (untuk membela Islam) dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjuang dengan harta benda dan jiwa mereka atas orang-orang yang tinggal duduk (tidak turut berperang kerana uzur) dengan kelebihan satu darjat. Dan tiap-tiap satu (dari dua golongan itu) Allah menjanjikan dengan balasan yang baik (Syurga), dan Allah melebihkan orang-orang yang berjuang atas orang-orang yang tinggal duduk (tidak turut berperang dan tidak ada sesuatu uzur) dengan pahala yang amat besar;" (An-Nisaa' : 95)
     Sebagaimana di tekankan ayat di atas, mereka yang mencari ridha Allah pada masa-masa susah lebih unggul daripada mereka yang tidak berupaya apa pun. Pegangan erat pada agama mereka dalam masa-masa susah seperti itu menyingkapkan kebesaran iman mereka.
     Sukar menilai ketulusan seseorang yang berkorban pada masa-masa mudah. Menempatkan manusia ke dalam cobaan melalui kesukaran adalah cara Allah membedakan antara mereka yang sungguh-sungguh dan mereka yang pendusta.

Monday, March 14, 2011

Akibat Tertipu........???

Akibat Tertipu Kehidupan Dunia...

     "Wahai umat manusia, sesungguhnya janji Allah (membalas amal kamu) adalah benar; maka janganlah kamu diperdayakan oleh kemewahan hidup di dunia, dan janganlah Syaitan yang menjadi sebesar-besar penipu itu berpeluang menyebabkan kamu terpedaya dengan (kemurahan) Allah (lalu kamu lalai dan menderhaka)."(Faatir: 5)
      Al-Qur'an secara khusus menunjukkan kenyatan bahawa sebahagian besar masyarakat yang dihancurkan memiliki tingkat peradapan yang tinggi.
      Di dalam Al-Qur'an:
      "Dan berapa banyak kaum-kaum (yang ingkar) yang terdahulu daripada orang-orang musyrik Makkah itu Kami telah binasakan. Kaum-kaum itu lebih kekuatannya (dan kehandalannya) daripada mereka, lalu kaum-kaum itu keluar mencari perlindungan di merata-rata negeri. (Meskipun demikian keadaannya) dapatkah (mereka) menyelamatkan diri?."(Qaaf: 36),
Ditekankan secara khusus dua sifat dari kaum yang telah di hancurkan. Pertama, "mereka lebih besar kekuatannya". Kedua, masyarakat-masyarakat itu mendirikan kota-kota besar yang dicirikan dengan karya-karya rekabentuk mereka.
      Kedua sifat ini dimiliki oleh peradapan(perangai) zaman sekarang,yang telah membentuk sebuah kebudayaan dunia yang begitu luas melalui ilmu pengetahuan dan teknoloji saat ini, serta mendirikan negara-negara yang tersentralisasi, kota-kota besar, namun mengingkari dan mengabaikan Allah, dengan melupakan bahawa semua itu dimungkinkan oleh Kekuasaan Allah. Namun, seperti umat terdahulu, peradapan yang mereka kembangkan tidak dapat menyelamatkannya kerana berlandaskan pengingkaran terhadap Allah. Mereka malah hancur sehancurnya.


Sunday, March 13, 2011

Berdakwah Kepada Kaum Munafik...

Tetap Istiqamah Berdakwah Kepada Kaum Munafik...


      "Sesungguhnya Allah mengetahui akan orang-orang (munafik) yang menghalangi di antara kamu, dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya: "Marilah bersatu dengan kami", sedang mereka tidak turut berperang melainkan sebentar sahaja."(Al-Ahzaab: 18).
      Orang-orang munafik atau mereka yang keyakinannya lemah gagal menyedari bahawa perutusan-perutusan yang dibuat Rasulullah SAW. dijamin sepenuhnya oleh Allah. Mereka menentang beliau yang kemudian melahirkan pertentangan:
      "Dan di antara mereka (yang munafik itu) ada orang-orang yang menyakiti Nabi sambil mereka berkata: "Bahawa dia (Nabi Muhammad) orang yang suka mendengar (dan percaya pada apa yang didengarnya)". Katakanlah: "Dia mendengar (dan percaya) apa yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah dan percaya kepada orang mukmin, dan ia pula menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu". Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab seksa yang tidak terperi sakitnya."(Al-Taubah: 61)
      Mereka malah menggunakan perutusan-perutusan itu untuk bergosip(memfitnah) dan mencuba menyebarkan penentangan untuk membuat orang-orang saling bertikai dan menciptakan kumpulan melawan mereka.
   Orang-orang munafik juga bersikap seolah-olah percaya akan perkatan beliau, padahal sebenarnya tidak. Mendapati sikap seperti ini, Rasulullah SAW tetep menjelaskan agama dengan tekad yang baik dan tidak memperhatikan halangan-halangan itu.
      "Awaslah! Kamu ini adalah orang-orang (yang melanggar larangan), kamu sahajalah yang suka (dan percayakan mereka, sedang mereka tidak suka kepada kamu. kamu juga beriman kepada segala Kitab Allah (sedang mereka tidak beriman kepada Al-Quran). Dan apabila mereka bertemu dengan kamu mereka berkata: "Kami beriman", tetapi apabila mereka berkumpul sesama sendiri, mereka menggigit hujung jari kerana geram marah (kepada kamu), katakanlah (wahai Muhammad): "Matilah kamu dengan kemarahan kamu itu". Sesungguhnya Allah sentiasa mengetahui akan segala (isi hati) yang ada di dalam dada." (A-li'Imraan; 119)
      "Bertanyalah (wahai Muhammad): "Siapakah Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan langit dan bumi?" Jawablah: "Allah". Bertanyalah lagi: "Kalau demikian, patutkah kamu menjadikan benda-benda yang lain dari Allah sebagai Pelindung dan Penolong, yang tidak dapat mendatangkan sebarang manfaat bagi dirinya sendiri, dan tidak dapat menolak sesuatu bahaya?" Bertanyalah lagi: "Adakah sama, orang yang buta dengan orang yang celik? Atau adakah sama, gelap-gelita dengan terang? Atau adakah makhluk-makhluk yang mereka jadikan sekutu bagi Allah itu telah mencipta sesuatu seperti ciptaanNya, sehingga ciptaan-ciptaan itu menjadi kesamaran kepada mereka?" Katakanlah: "Allah jualah yang menciptakan tiap-tiap sesuatu, dan Dia lah Yang Maha Esa, lagi Maha Kuasa."(Ar-Rad: 36)
      Rasulullah SAW terus mengingatkan mereka menggunakan cara yang paling berkesan dalam mengomunikasikan agama dengan harapan mereka menemukan keyakinan dan meninggalkan kebencian mereka dan agama mereka semula.
      Meskipun dua sikap bertentangan yang diperlihatkan orang-orang yang menentang beliau, Rasulullah SAW  berbicara dengan mereka dengan perkataan yang dapat memungkinkan mereka melihat kebenaran dan dapat mengerakkan hati nurani mereka.
      Ini tanggung jawab yang berat, yakini memberikan nasihat kepada musuh-musuh beliau, memperlihatkan kesalahan cara-cara mereka beribadah, dan menyeru mereka kepada jalan kebenaran.

Saturday, March 12, 2011

Kekufuran................ Menerima Pemberian ALLAH.

Kekufuran Orang-Orang Musyrik  Menerima Pemberian ALLAH.

     Di antara sikap jahiliah dan tidak beriman kepada Allah adalah tidak menyukuri kurinaan yang telah di anugerahkan Allah kepadanya. Bahkan, ketika mendapat nikmat yang tidak sesuai dengan keinginannya, ia sama sekali tidak menunjukkan rasa berterima kasih kepada Yang Maha Pengasih.
   Padahal Allah-lah yang mencipta sesuatu dengan tujuan tertentu. Setiap anugerah hiduo, keimanan, makanan, kesihatan, sepasang mata dan telinga kita merupakan anugerah kepada manusia agar bersyukur kepada-Nya.
      "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah (yang dilimpahkannya kepada kamu), tiadalah kamu akan dapat menghitungnya satu persatu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani."(Al-Nahl : 18)


     Rasa bersyukur merupakan ibadah dan juga cara melindungi kita dari "penyimpangan". Tidak bersyukur bererti melangkah menuju kerosakan dan kejahatan, melupakan kelemahan-kelemahan, dan menjadi takbur ketika mereka semakin kaya dan berkuasa. Menujukkan rasa bersyukur kita kepada Allah bererti melindungi diri dari "kerosakan". Mereka yang menunjukkan rasa syukurnya kepada Allah disertai ilmu bahawa semua yang dicapai adalah pemberian Allah, bererti mereka mengetahui bahawasanya mereka bertanggung jawab menggunakan semua rahmat ini di jalan Allah dan seperti kehendak-Nya. Itulah rasa bersyukur kepada Allah yang didasari kerendahan hati dan kedewasaan para Rasul. Seperti Nabi Daud a.s atau Nabi Sulaiman a.s yang kepadanya diberikan harta dan kedudukan. Sebenarnya peristiwa Qarun yang ingkar disebabkan harta adalah kerana ia tidak bersyukur kepada Allah.


     Bersyukur tidak mesti selalu tunjukan dengan kata-kata. Yang jestru harus dilakukan adalah menggunakan setiap anugerah di jalan yang di sukai Allah. Sebagai tahap awal, tubuh yang dianugerahkan kepada kita, harus kita kita pergunakan untuk kita berjuang kerana-Nya. Al-Qur'an pun memberitahukan bagaimana cara menunjukkan rasa syukur kita kepada Allah, yaitu dengan menyebut semua anugerah-Nya, dengan menyampaikan "pesan"-Nya kepada semua..

Friday, March 11, 2011

NIKMAT......ORANG-ORANG BERIMAN.

Nikmat Bagi Orang-Orang yang Beriman.
   
Orang-orang beriman meyakini dan mengetahui bahawa takdir yang diciptakan oleh Allah adalah yang terbaik bagi mereka. Dengan kata lain, mereka mengetahui bahawa terdapat kebaikan dalam apa sahaja yang diciptakan  oleh Allah. Itulah sebabnya setiap detik dalam kehidupannya, mereka selalu berserah kepada Allah.
    Terserang penyakit yang berbahaya, menghadapi musuh yang kejam, menghadapi tuduhan palsu, padahal ia tidak bersalah, atau menghadapi periatiwa yang sangat mengerikan, semua ini tidak mengubah keimanan orang yang beriman, juga tidak menimbulkan rasa takut dalam hati mereka. Mereka menyambut dengan rela apa saja yang diciptakan Allah untuk mereka.
    Orang-orang beriman menghadapi penuh gembira dengan apa saja, keadaan yang pada umumnya bagi orang-orang kafir menyebabkan perasaan negri dan putus asa. Hal itu kerana rencana yang paling mengerikan sekalipun, sesesungguhnya telah direncanakan oleh Allah untuk menguji mereka.
    Orang-orang yang menghadapi semua ini dengan sabar dan bertawakal kepada Allah atas takdir yang telah Dia ciptakan akan dicintai dan diredai Allah. Mereka akan memperolehi syurga yang kekal abadi. Itulah sebabnya orang-orang yang beriman memperolehi kenikmatan, ketenangan, dan kegembiraan dalam kehidupan mereka kerana bertawakal kepada Allah.
    Inilah nikmat nan rahsia yang dijelaskan oleh Allah kepada orang-orang beriman. Allah menjelaskan alam Al-Qur'an badawa Dia mencintai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.
    "Maka dengan sebab rahmat (yang melimpah-limpah) dari Allah (kepadamu wahai Muhammad), engkau telah bersikap lemah-lembut kepada mereka (sahabat-sahabat dan pengikutmu), dan kalaulah engkau bersikap kasar lagi keras hati, tentulah mereka lari dari kelilingmu. Oleh itu maafkanlah mereka (mengenai kesalahan yang mereka lakukan terhadapmu), dan pohonkanlah ampun bagi mereka, dan juga bermesyuaratlah dengan mereka dalam urusan (peperangan dan hal-hal keduniaan) itu. kemudian apabila engkau telah berazam (sesudah bermesyuarat, untuk membuat sesuatu) maka bertawakalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mengasihi orang-orang yang bertawakal kepadaNya." (Al-Imran: 159)
    Rasulullah SAW bersabda sebagai berikut:
"Tidaklah beriman seseorang hamba Allah hingga ia percaya kepada takdir yang baik dan buruk, dan mengetahui bahawa ia tidak dapat menolak apa sahaja yang menimpanya (baik dan buruk), dan ia tidak dapat terkena apa saja yang di jauhkan darinya (baik dan buruk)."

Thursday, March 10, 2011

WASPADA...!!!

Mewaspadi Kemusyrikan yang Terselubung:
"Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan." (Fussilat: 17)
   Berdasarkan rahsia Allah Swt. yang diungkapkan kepada orang-orang beriman, Allah Swt. akan meneguhkan nilai-nilai Al-Qur'an diseluruh dunia jika orang-orang beriman dan menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya. Ini merupakan rashia yang sangat penting kerana hal ini menunjukkan bahawa sesungguhnya merupakan tanggungjawab bagi setiap orang yang beriman untuk mendakwahkan Al-Qur'an kepada manusia. Dengan demikian setiap orang beriman yang mempunyai hati nurani harus menjauhkan diri dan sungguh-sungguh dari menyekutuan Allah dan hanya menyembah-Nya.
   Dibandingkan hal-hal lainnya, menyekutukan Allah merupakan dosa yang tidak akan di ampuni oleh Allah. Orang yang melakukan pun akan di masukkan ke dalam neraka. Bagaimana pun tampaknya sebahagian besar manusia terlibat dalam ajaran-ajaran orang musyrik yang menyembah berhala.
   Manusia harus waspada terhadap "kemusyrikan yang terselubung". Dalam bentuk kemusyrikan, seperti ini, orang tersebut menyatakan beriman kepada Allah, mengakui Allah itu Maha Esa, Allah Yang Maha Menciptakan, dan yang wajib dita'ati. akan tetepi pada waktu yang sama, ia juga takut pada mahluk yang lain selain Allah Swt. menganggap persetujuan  dan bantuan orang lain lebih penting, menganggap bahawa perniagaan, keluarga, dan anak-cucu lebih penting daripada Allah Swt. daripada berjuang dijalan-Nya.
   Sesungguhnya perlu di ketahui, semua bentuk perlaku seperti ini dalam diri seseorang hamba merupakan bentuk kemusyrikan yang nyata.

Wednesday, March 9, 2011

IMAN.....

Faedah Iman..
  "Maka tidakkah mereka telah mengembara di muka bumi, serta mereka memerhatikan bagaimana akibat orang-orang kafir yang terdahulu dari mereka? Allah telah menghancurkan orang-orang itu; dan orang-orang kafir (yang menurut jejak mereka) akan beroleh akibat-akibat buruk yang seperti itu." (Muhammad:10)
   Orang-orang yang beriman sempurna menegaskan dengan hati dan sepenuh kehidupan bahawa tiada Tuhan melainkan ALLAH. Mereka berpaling kepada ALLAH dan tidak mengangkat sekutu bagi-Nya. Mereka memurnikan ketaatan kepada-Nya dan menjalankan agama:
    " Katakanlah lagi (wahai Muhammad): "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan segala ibadat kepadaNya." (Az-Zumar : 11).
      Allah juga mengambarkan hamba-hamba-Nya di dalam ayat yang lain,
    " Kecuali orang-orang yang bertaubat (dari perbuatan munafik itu) dan memperbaiki amalan mereka (yang salah), dan mereka pula berpegang teguh kepada (agama) Allah, serta mengerjakan agama mereka dengan ikhlas kerana Allah, maka mereka yang demikian itu ditempatkan bersama-sama orang-orang yang beriman (di dalam Syurga); dan Allah akan memberikan orang-orang yang beriman itu pahala yang amat besar." (An-Nisaa' : 146).
    Orang yang beriman sempurna juga membezakan diri melalui perhatian saksama yang di berikan pada perilaku ibadahnya. Sepanjang hidup selama mampu ia bergairah menegakkan solat, berpuasa, membayar zakat, ia ini menyakini memenuhi ibadah yang ditetapkan  Allah adalah wajib.
    Mereka beriman sempurna adalah mereka yang sedar bahawa "tidak sesuatu pun dapat menimpa mereka, kecuali apa yang telah di tetapkan oleh Allah atas mereka."
    Menyedari bahawa Allah menciptakan setiap peristiwa demi keuntungan agama dan manfaat bagi kehidupan mukmin pada hari kemudian, mereka yang beriman sempurna hidup dalam kepasarahan tulus kepada kebijaksanaan abadi Allah dan takdir yang telah di tetapkan-Nya.


Wassalam...

Monday, March 7, 2011

TANGKAL.....?

 Bertangkal

 Masalah bertangkal dan menggantungkan diri pada kubur dan sebagainya, dengan suatu anggapan, bahwa tangkal dan kubur ini akan dapat menyembuhkan penyakit atau dapat melindungi diri dari mara-bahaya.

  Pada abad ke 20 ini masih banyak orang yang menggantungkan ladam kuda di atas pintu rumahnya. Dan sampai hari ini di berbagai negara masih banyak orang-orang hendak memperbodoh orang bodoh. Mereka menulis tangkal-tangkal, membuat beberapa garis azimat dan membacakan azimat-azimatnya itu dengan suatu anggapan, bahwa azimatnya itu dapat melindungi si pembawanya dari gangguan jin, sengatan kalajengking, kejahatan mata, kedengkian orang dan sebagainya.

   Untuk menjaga keselamatan diri dan mengubati penyakit, ada cara-caranya sendiri yang sudah dikenal menurut ketetapan syariat Islam. Islam sangat menentang siapa yang mengabaikan cara-cara itu, dan siapa yang menggunakan cara-cara yang dilakukan pendusta-pendusta yang menyesatkan itu.
Rasulullah s.a.w. pernah bersabda sebagai berikut:
   "Berubatlah kamu, kerana sesungguhnya Dzat yang membuat penyakit, Dia pula yang membuat ubatnya." (Riwayat Ahmad)
Dan sabdanya pula:
   "Kalau ada sesuatu yang lebih baik daripada ubat-ubatanmu, maka ketiga hal inilah yang lebih baik, yaitu: minum madu, atau berbekam, atau kei dengan api." (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Ketiga cara berubat ini jiwanya dan analoginya dapat meliputi macam-macam cara pengubatan yang berlaku di zaman kita sekarang, misalnya pengubatan dengan melalui mulut, operasi, kei dan elektronik.
   Adapun menggantungkan tangkal dan membaca mentera untuk berubat dan menjaga diri, adalah suatu kebodohan dan kesesatan yang bertentangan dengan sunnatullah dan dapat menghilangkan tauhid.
   Uqbah bin 'Amir meriwayatkan, bahwa ada sepuluh orang berkendaraan datang ke tempat Rasulullah s.a.w. Yang sembilan dibai'at, tetapi yang satu ditahan. Kemudian mereka yang sembilan itu bertanya: mengapa dia ditahan? Rasulullah menjawab: kerana di lengannya ada tangkal. Kemudian si laki-laki tersebut memotong tangkalnya, maka dibai'atlah dia oleh Rasulullah s.a.w. dan ia bersabda:
    "Barangsiapa menggantungkan (tangkal), maka sungguh dia telah menyekutukan Allah." (Riwayat Ahmad dan Hakim; dan lafaz hadis ini adalah lafaz Hakim, dan rawi-rawi Ahmad adalah kepercayaan)
Dalam hadisnya yang lain ia bersabda:
     "Barangsiapa menggantungkan tangkal, maka Allah tidak akan menyempurnakan (imannya), dan barangsiapa menggantungkan azimat, maka Allah tidak akan mempercayakan kepadanya." (Riwayat Ahmad, Abu Ya'la dan Hakim dan ia mensahkan)
      "Dari lmran bin Hushain; sesungguhnya Rasulullah s.a.w. pernah melihat di lengan seorang laki-laki ada gelang --yang saya lihat sari kuningan-- kemudian Rasulullah bertanya: "Celaka kamu, apa ini?!" Ia menjawab: "Ini adalah 'wahinah'" (sesuatu yang dapat melemahkan orang lain, sebangsa azimat). Maka jawab Rasulullah: Dia tidak akan menambah kamu, kecuali kelemahan; kerana itu buanglah dia, sebab kalau kamu mati sedang wahinah itu masih ada pada kamu, maka kamu tidak akan bahagia selamanya." (Riwayat Ahmad, Ibnu Hibban; dan Ibnu Majah )
     Pendidikan ini sangat berpengaruh pada pribadi-pribadi sahabat Rasulullah s.a.w., sehingga mereka dapat mengangkat diri mereka tanpa menerima kesesatan dan mempercayai kebatilan ini.
Isa bin Hamzah berkata: suatu ketika saya pernah masuk rumah Abdullah bin Hakam sedang waktu itu pada diri Abdullah ada tanda merah. Kemudian saya bertanya kepadanya: apakah kamu memakai tangkal? Jawab Abdullah: A'udzu billahi min dzalik (aku berlindung diri kepada Allah dari yang demikian itu). Dalam satu riwayat Abdullah mengatakan: Lebih baik aku mati daripada bertangkal, sebab Rasulullah s.a.w. telah bersabda:
     "Barangsiapa menggantungkan sesuatu (tangkal), maka dia akan dibebaninya." (Riwayat Tarmizi)
Diriwayatkan, bahwa suatu ketika Abdullah bin Mas'ud masuk rumah, sedang di leher isterinya ada kalung (bertangkal), maka ditariknya oleh Ibnu Mas'ud dan dipotong-potongnya, kemudian ia berkata: Keluarga Abdullah harus jauh daripada menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan keterangan padanya. Kemudian ia berkata:
     "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: sesungguhnya tangkal, azimat dan tambul adalah syirik. Para sahabat kemudian bertanya: Ya aba Abdirrahman! Tangkal dan azimat ini kami sudah tahu, tetapi apakah tambul itu? Ia menjawab: tambul ialah sesuatu yang diperbuat oleh orang-orang perempuan supaya selalu dapat bercinta dengan suami-suami mereka." (Riwayat Ibnu Hibban dan Hakim) 
 Tambul adalah salah semacam sihir.
    Para ulama berkata: tangkal yang dilarang; yaitu yang bukan bahasa Arab yang tidak dimengerti maksudnya, dan barangkali juga di situ terdapat sihir dan kata-kata kufur. Adapun kalimat yang dapat dimengerti dan didalamnya terdapat penyebutan Allah, maka kalimat semacam itu justru disunnatkan. Jadi tangkal waktu itu berarti doa dan harapan kepada Allah untuk kesembuhan dan berubat.
   Tangkal yang biasa dilakukan orang-orang jahiliah tercampur dengan sihir, syirik dan azimat yang sama sekali tidak mempunyai makna yang dapat dimengerti.
    Diriwayatkan, bahwa Ibnu Mas'ud pernah melarang isterinya berbuat semacam tangkal jahiliah ini, lantas isterinya berkata kepadanya: pada suatu hari saya keluar, kemudian si anu melihat saya maka melelehlah airmataku; tetapi apabila saya memakai tangkal ini airmataku tidak meleleh, tetapi kalau kubuang meleleh lagi. Maka berkatalah Ibnu Mas'ud kepadanya: dia itu adalah syaitan yang apabila kamu taat kepadanya, kamu akan ditinggalkannya, tetapi jika kamu durhaka kepadanya, maka ia akan cucuk matamu dengan jarinya. Kalau kamu mau berbuat seperti apa yang dilakukan Nabi, adalah lebih baik dan lebih dapat diharapkan akan kesembuhanmu, yaitu: kamu percikkan air pada kedua matamu, sambil berdoa:
    "Hilangkanlah penyakit ini hai Tuhan, sembuhkanlah aku, kerana Engkaulah Dzat yang dapat menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dariMu, suatu kesembuhan yang tidak akan meninggalkan sakit." (Riwayat Ibnu Majah, Abu Daud dan Hakim)

 Halal dan Haram dalam Islam
Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

Sunday, March 6, 2011

SIHIR....

 Sihir

 Islam menentang keras perbuatan sihir dan tukang sihir.
Tentang orang yang belajar ilmu sihir, al-Quran mengatakan:
"Mereka belajar suatu ilmu yang membahayakan diri mereka sendiri dan tidak bermanfaat buat mereka." (al-Baqarah: 102)
Rasulullah s.a.w. menilai sihir sebagai salah satu daripada dosa besar yang merosakan dan menghancurkan sesuatu bangsa sebelum terkena kepada pribadi seseorang, dan dapat menurunkan darjat pelakunya di dunia ini sebelum pindah ke akhirat. Justru itu Nabi bersabda:
"Jauhilah tujuh perkara besar yang merosak. Para sahabat bertanya: Apakah tujuh perkara itu, ya Rasulullah? Jawab Nabi, yaitu: 1) menyekutukan Allah; 2) sihir; 3) membunuh jiwa yang oleh Allah diharamkan kecuali kerana hak; 4) makan harta riba; 5) makan harta anak yatim, 6) lari dari peperangan; 7) menuduh perempuan-perempuan baik, terjaga dan beriman." (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Sebagian ahli fiqih menganggap, bahwa sihir itu berarti kufur, atau membawa kepada kufur.
Sementara ada juga yang berpendapat: ahli sihir itu wajib dibunuh demi melindungi masyarakat dari bahaya sihir.
Al-Quran juga telah mengajar kita supaya kita suka berlindung diri kepada Allah dari kejahatan tukang sihir, yaitu firmanNya:
"(Dan aku berlindung diri) dari kejahatan tukang meniup simpul." (al-Falaq: 4)
Peniup simpul salah satu cara dan ciri yang dilakukan ahli-ahli sihir. Dalam salah satu hadis dikatakan:
"Barangsiapa meniup simpul, maka sungguh ia telah menyihir, dan barangsiapa menyihir maka sungguh dia telah berbuat syirik." (Riwayat Thabarani )
Sebagaimana halnya Islam telah mengharamkan pergi ke tempat dukun/bomoh untuk menanyakan perkara-perkara ghaib, maka begitu juga Islam mengharamkan perbuatan sihir atau pergi ke tukang sihir untuk mengubati suatu penyakit yang telah dicubakan kepadanya, atau untuk mengatasi suatu masalah yang dideritanya. Cara-cara semacam ini tidak diakuinya oleh Nabi sebagai golongannya. Sebagaimana sabdanya:
"Tidak termasuk golongan kami, barangsiapa yang menganggap sial kerana alamat (tathayyur) atau minta dihapus kesialannya dan menenung atau minta ditenungkan, atau menyihir atau minta disihirkan." (Riwayat Bazzar)
Ibnu Mas'ud juga pernah berkata:
"Barangsiapa pergi ke tukang ramal, atau ke tukang sihir atau ke tukang tenung, kemudian ia bertanya dan percaya terhadap apa yang dikatakannya, maka sungguh dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w." (Riwayat Bazzar dan Abu Ya'la  )
Dan bersabda pula Rasulullah s.a.w.:
"Tidak akan masuk syurga pencandu arak, dan tidak pula orang yang percaya kepada sihir dan tidak pula orang yang memutuskan silaturrahmi." (Riwayat Ibnu Hibban)
Haramnya sihir di sini tidak hanya terbatas kepada si tukang sihirnya saja, bahkan meliputi setiap yang percaya kepada sihir dan percaya kepada apa yang dikatakan oleh si tukang sihir itu.
Lebih hebat lagi haram dan kejahatannya apabila sihir itu dipergunakan untuk tujuan-tujuan yang haram, seperti menceraikan antara suami-isteri, mengganggu seseorang dan sebagainya yang biasa dikenal di kalangan ahli-ahli sihir.

Halal dan Haram dalam Islam
Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

Friday, March 4, 2011

Pakaian untuk Berfoya-foya....?

Pakaian Untuk Berfoya-foya dan Kesombongan

Ketentuan secara umum dalam hubungannya dengan masalah menikmati hal-hal yang baik, yang berupa makanan, minuman ataupun pakaian, yaitu tidak boleh berlebih-lebihan dan untuk kesombongan.
Berlebih-lebihan, yaitu melewati batas ketentuan dalam menikmati yang halal. Dan yang disebut kesombongan, yaitu erat sekali hubungannya dengan masalah niat, dan hati manusia itu berkait dengan masalah yang zahir. Dengan demikian apa yang disebut kesombongan itu ialah bermaksud untuk bermegah-megah dan menunjuk-nunjukkan serta menyombongkan diri terhadap orang lain. Padahal Allah samasekali tidak suka terhadap orang yang sombong.

Seperti firmanNya:
"Allah tidak suka kepada setiap orang yang angkuh dan sombong." (al-Hadid: 23)
Dan Rasulullah s.a.w. juga bersabda:
"Barangsiapa melabuhkan kainnya kerana sombong, maka Allah tidak akan melihatnya nanti di hari kiamat." (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Kemudian agar setiap muslim dapat menjauhkan diri dari hal-hal yang menyebabkan kesombongan, maka Rasulullah s.a.w. melarang berpakaian yang berlebih-lebihan, dimana hal tersebut akan dapat menimbulkan perasaan angkuh, membanggakan diri pada orang lain dengan bentuk-bentuk lahiriah yang kosong itu.
Di dalam hadisnya, Rasulullah s.a.w. bersabda sebagai berikut,
"Barangsiapa memakai pakaian yang berlebih-lebihan, maka Allah akan memberikan pakaian kehinaan nanti di hari kiamat." (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Nasa'i dan Ibnu Majah)
Ada seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu Umar tentang pakaian apa yang harus dipakainya? Maka jawab Ibnu Umar: "yaitu pakaian yang kiranya kamu tidak akan dihina oleh orang-orang bodoh dan tidak dicela oleh kaum filsuf." (Riwayat Thabarani)

Halal dan Haram dalam Islam
Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

Thursday, March 3, 2011

Tinggalkan Tempat Persidangan Arak

Tinggalkan Tempat Persidangan Arak
Berdasar sunnah Nabi, orang Islam diharuskan meninggalkan tempat persidangan arak, termasuk juga berduduk-duduk dengan orang yang sedang minum arak.
Diriwayatkan dari Umar r.a. bahwa dia pernah mendengar Rasulullah s,a.w. bersabda:
         "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah duduk pada suatu hidangan yang padanya diedarkan arak." (Riwayat Ahmad)
Setiap muslim diperintah untuk menghentikan kemungkaran kalau menyaksikannya. Tetapi kalau tidak mampu dia harus menyingkir dan menjaga masyarakat dan keluarganya.
Dalam salah satu kisah diceriterakan, bahwa Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah mendera orang-orang yang minum arak dan yang ikut menyaksikan persidangan mereka itu, sekalipun orang yang menyaksikan itu tidak turut minum bersama mereka.
Dan diriwayatkan pula, bahwa pernah ada suatu kaum yang diadukan kepadanya kerana minum arak, kemudian beliau memerintahkan agar semuanya didera. Lantas ada orang yang berkata: 'Bahawa di antara mereka itu ada yang berpuasa.' Maka jawab Umar: 'Dera dulu dia!'
Apakah kamu tidak mendengarkan firman Allah yang mengatakan;
          "Dan sesungguhnya Allah telahpun menurunkan kepada kamu (perintahNya) di dalam Kitab (Al-Quran), iaitu: apabila kamu mendengar ayat-ayat keterangan Allah diingkari dan diejek-ejek (oleh kaum kafir dan munafik), maka janganlah kamu duduk (bergaul) dengan mereka sehingga mereka masuk kepada memperkatakan soal yang lain; kerana sesungguhnya (jika kamu melakukan yang demikian), tentulah kamu sama seperti mereka. Sesungguhnya Allah akan menghimpunkan sekalian orang munafik dan orang kafir di dalam neraka jahannam." (An- Nisaa': 140)

Halal dan Haram dalam Islam
Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

klik untuk tabung blog ini.....terimakasih